Google+ Followers

Rabu, 09 Januari 2013

Kurang Merah ( artikel seni)


Konsep Visual

Semua itu bermula dari rasa tolong menolong terhadap  teman yang belum dikenal. Mbak Tita , seorang mahasiswi jurusan tari angkatan 2008 meminta kami, Rio, Anggih dan saya sendiri, untuk membuatkan kain gradasi merah ke putih sepanjang  9meter dan lebar 1meter untuk properti backdrop dalam set panggung perfom tari nya yang diadakan di stage tari. Kami berkomitmen untuk berusaha semaksimal mungkin dan bertanggung jawab sama- sama terhadap proses pewarnaan kain tersebut, berbagai eksperimen telah kami coba, namun kain selalu ada kekurangan, kurang merah lah, apalah,  sampai suatu hari kami merasa benar- benar putus asa, kalau memang ini hasil pewarnaan nya tidak sesuai keinginan nya lagi, maka kita akan bilang MENYERAH kepada mbak Tita.

Rasa kesal, bosan, capek  dan kecewa mengiringi kami dalam proses pewarnaan kain tersebut. Sebenarnya tidak hanya mewarna kain saja namun kami juga membantu pada saat mereka perfom, merangkak- rangkak di atap pas di atas panggung dekat lampu- lampu. Kami hanya berijak pada  batang- batang besi. Sumpah. .padahal saya sangat takut ketinggian. Tapi pada akhirnya semua itu terlewati, acara telah usai. .perfom terbilang sukses, hanya saja ada sedikit kesalahan kami yang sangat disesali, terlambat menurunkan backdrop. Hufh. .kami sangat menyesal dan belum sempat bertemu lagi dengan mbak Tita si penari yang punya gawe.

Emosi itu sangat mengganggu otak saya, maka saya tuangkan dalam sketsa menggunakan  gaya ekspresif . Dengan warna warna kontras dan cerah, saya mencoba menjelaskan maksud hati yang menggebu- gebu. Dua kain merah dan warna nya semakin muda kebawah adalah kain perjuangan yang kami buat. Ditengah adalah gambar 2 orang penari sedang menarikan tarian nya, yang diatas adalah mbak Tita. Ini adalah tarian yang bagus, menceritakan sebuah ruwatan atau doa- doa tolak balak untuk  anak “Sendang kapit Pancuran” yaitu  anak 3 , yang pertama laki- laki, kedua perempuan, ketiga laki- laki lagi, sendang diartikan perempuan, kapit artinya diapit, pancuran diartikan laki- laki. Yang berarti anak perempuan diapit 2 anak laki- laki.




Pembahasan

Pengalaman ini terjadi pada pagi tadi, setelah ujian saya meninggalkan gedung grafis dan bergegas menuju stage tari untuk membantu menaikan backdrop merah putih yang telah kami buat. Semua itu adalah pengalaman yang saat ini sedang  mengental hangat di otak saya. Tarian nya, musik nya, panggung nya, kursi penonton, dan besi- besi pijakan itupun masih terkesan sekali dipikaran. Rasa yang dulu nya sempat putus asa, sekarang saya merasakan kepuasan, haru, bangga, dan gembira. Namun disamping itu saya juga merasakan kecemasan,penyesalan, kecewa  dan seperti ada yg mengganjal dalam diri saya, dari tadi siang setelah selesai acara tersebut kami menunggu sms atau telefon dari mbak Tita, karena kami belum tau kelanjutan nya. Semoga saja mbak Tita merasa puas dengan kerja kami. Ini merupakan rasa sosial yang muncul, walaupun hanya membantu tapi kami juga ingin hasil yang kami kerjakan maksimal dan tidak mengecewakan orang yang kita bantu.

Disini saya lebih menggunakan emosi yang tinggi berdasarkan pengalaman yang baru saja terjadi pada  saat membuat sketsa ini. Semua emosi itu sendiri berasal dari sistem limpik otak. Emosi disini meliputi rasa yang bercampur aduk  menjadi satu sehingga menghasilkan karya yang ekspresif dengan garis emosi nya.Karya ini tercipta oleh  suatu kesadaran rasional yang memiliki pengalaman dan memahami realitas dengan melakukan eksplorasi yang lebih jauh daripada bertumpu pada panca indra.

Selain itu pengalaman yang diceritakan tadi juga mempengaruhi sikis saya. Pada saat sebelum menyetujui pekerjaan tersebut kami sebagai mahasiswa seni memikirkan sekilas cara nya membuat gradasi kain yang halus dan rata. Dengan kreatifitas kami yang belum terstruktur baik karena kondisi tak terduga dalam suatu obrolan, bekerjalah otak kanan dahulu. Lalu setelah semua sepakat kami menyetujui pekerjaan tersebut, dengan perjanjian tanggung jawab kami bertiga.

Pada proses pewarnaan kain backdrop tadi, kami harus memikirkan berbagai pertimbangan yang memaksa kerja otak kiri yang mana  harus tersusun rapi, terstruktur, sistematis dan memahami hal yg mendetail. Karena dalam pengerjaan ke tiga kain ukuran  9 meter itu warna nya harus  sama semua, sampai ke gradasi- gradasi nya juga.


Kesimpulan

Dalam setiap kita hendak berkarya, pasti sangat berpengaruh pada sikis kita. Emosi dan ketidak sadaran itu akan memicu proses  berkarya. Mungkin termasuk  motivasi- motivasi yang timbul karena suatu kejadian dan pengalaman yang telah dilalui.Disini saya lebih menggunakan emosi yang tinggi berdasarkan pengalaman yang baru saja terjadi pada  saat membuat sketsa ini.Semua emosi itu sendiri berasal dari sistem limpik otak.

Rasa kesal, bosan, capek  dan kecewa mengiringi kami dalam proses pewarnaan kain tersebut.Setelah itu rasa yang dulu nya sempat putus asa, sekarang saya merasakan kepuasan, haru, bangga, dan gembira.Namun disamping itu saya juga merasakan kecemasan,penyesalan, kecewa  dan seperti ada yg mengganjal dalam diri saya. Perasaan itulah yang timbul pada diri saya ketika membuat karya ini.

Tidak ada komentar: