Google+ Followers

Kamis, 30 Oktober 2014

resume buku "Pengantar Kebudayaan Koentjaraningrat, BAB KEBUDAYAAN, oleh Devy Ika Nurjanah, S.Sn




BAB V
KEBUDAYAAN


Pengertian Kebudayaan
Menurut ilmu antropologi , kebudayaan adalah : keseluruhan sistem gagasan , tindakan , hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar”.(Koentjaraningrat : 1981:180).
Definisi yang menganggap bahwa kebudayaan dan tindakan kebudayaan itu adalah segala tindakan yang harus dibiasakan oleh manusia dengan belajar (learned behaviour), juga diajukan oleh beberapa ahli antropologi terkenal seperti C. Wissler, C. Kluckchohn, A. Davis atau A. Hoebel.
Kata “kebudayaan” berasal dari kata sanskerta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal”. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan: “hal-hal yang bersangkutan dengan akal”
Budaya adalah daya dari budi, yang berupa cipta, karsa, dan rasa, sedangakan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa, dan rasa itu (M.M Djojodigoeno: 1958: 24-27).
Kata culture merupakan kata asing yang sama artinya dengan kebudayaan. Berasal dari kata Latin colere yang berarti mengolah, mengerjakan, terutama mengolah tanah atau bertani. Culture : segala daya upaya serta tindakan manusia untuk mengolah tanah dan mengubah alam. 
Perbedaan kebudayaan dengan peradaban terletak pada penyebutan unsur dan bagian –bagian dari kebudayaan yang halus, maju, dan indah. “ peradaban “ juga sering dipakai untuk istilah teknologi, pengetahuan,seni dan lain-lain.

Sifat superorganik dari kebudayaan
Melalui dua peristiwa evolusi kebudayaan, yaitu revolusi pertanian dan revolusi perkotaan, proses kecepatan tampak membumbung tinggi dengan suatu kecepatan yang seolah-olah tidak dapat dikendalikan sendiri, dalam waktu hanya 200 tahun saja, melalui peristiwa yang disebut revolusi industri.
Proses perkembangan kebudayaan yang seolah-olah melepaskan diri dari evolusi organik, merupakan proses yang oleh ahli antropologi A. L. Kroeber disebut proses perkembangan superorganicdari kebudayaan.

Tiga Wujud Kebudayaan ( Koentjaraningrat : 1981 : Hal 186 )
1.      Sebagai suatu kompleks dari ide-ide , gagasan , nilai, norma , peraturan , dan sebagainya
2.      Sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat
3.      Kebudayaan sebagai benda hasil karya manusia.

Wujud pertama adalah wujud ideal dari kebudayaan, bersifat abstrak, dalam pikiran masyarakat dimana kebudayaan itu hidup. Wujud yang pertama bisa dikatakan sebagai wujud dari sistem kebudayaan atau Cultural system.
Wujud yang kedua adalah sebagai wujud dari sistem sosial atau Social System, mengenai tindakan berpola dari manusia itu sendiri. Terdiri dari aktivitas manusia yang berinteraksi,selalu menurut pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sistem sosial itu bersifat kongkrit dan bisa diobservasi.
Wujud yang ketiga adalah bisa dikatakan sebagai  kebudayaan fisik. Berupa keseluruhan dari hasil fisik dari aktivitas, dan karya semua manusia dalam masyarakat, sifatnya paling kongkrit dan berwujud benda.

Adat-istiadat, norma, dan hukum
Sistem nilai budaya merupakan tingkat yang paling tinggi dan paling abstrak dari adat istiadat. Nilai budaya sebagai pedoman arah terhadap hidup bersifat sangat umum, Sedangkan norma yang berupa aturan-aturan untuk bertindak bersifat khusus, sedangkan perumusannya bersifat amat terperinci, jelas, tegas dan tidak meragukan.
Individu-individu ahli mengenai norma-norma dalam masyarakatnya disebut “ahli adat”.
Perbedaan antara adat dan hukum adat, memang sudah sejak lama menjadi buah pemikiran para ahli antropologi. Mereka dapat kita bagi dalam dua golongan. Golongan pertama tidak ada aktivitas hukum dalam masyarakat yang tidak bernegara. Anggapan ini terutama disebabkan karena para ahli menyempitkan definisi mereka tentang hukum hanya pada aktivitas-aktivitas hukum dalam masyarakat yang bernegara. Golongan kedua tidak mengkhususkan definisi mereka tentang hukum, hanya kepada hukum dalam masyarakat bernegara dengan suatu sistem alat-alat kekuasaan saja.
B. Malinowski berpendapat bahwa ada suatu dasar universal yang sama antara “hukum” dalam masyarakat bernegara dan masyarakat terbelakang.
Unsur-unsur Kebudayaan
Ada tujuh unsur kebudayaan yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia, yaitu:
1.      Bahasa
2.      Sistem pengetahuan
3.      Organisasi sosial
4.      Sistem peralatan hidup dan teknologi
5.      Sistem mata pencaharian hidup
6.      Sistem religi
7.      Kesenian
Fungsi unsur-unsur kebudayaan
M.E. Spiro pernah mendapatkan bahwa ada tiga cara pemakaian kata “fungsi” itu dalam karangan ilmiah, ialah:
1.         Pemakaian yang menerangkan “fungsi” itu sebagai hubungan antara suatu hal dengan suatu tujuan tertentu .
2.       Pemakaian yang menerangkan kaitan antara satu hal dengan hal yang lain
3.       Pemakaian yang menerangkan hubungan yang terjadi antara satu hal dengan hal-hal lain dalam suatu system yang terintegrasi.

Fokus kebudayaan
Banyak kebudayaan mempunyai suatu unsur kebudayaan atau beberapa pranata tertentu yang merupakan suatu unsur pusat dalam kebudayaan, sehingga digemari oleh sebagian besar dari warga masyarakat. Dengan demikian mendominasi banyak aktivitas atau pranata lain dalam kehidupan masyarakat.
Suatu kompleks unsur-unsur kebudayaan yang tampak amat digemari warga masyarakatnya sehingga tampak seolah-olah mendominasi seluruh kehidupan masyarakat yang bersangkutan, oleh R. Linton, disebut cultural interest, atau kadang-kadang juga social interest. Pengarang  mengusulkan untuk menggunakan istilah fokus kebudayaan, suatu istilah yang pertama-tama digunakan oleh M.J. Herskovits.
Etos kebudayaan
Suatu kebudayaan sering memancarkan keluar suatu watak khas tertentu yang tampak. Watak khas tersebut dalam ilmu antropologi disebut ethos, sering tampak pada gaya tingkah laku warga masyarakatnya, kegemaran-kegemaran mereka, dan berbagai benda hasil karya mereka.
Kepribadian umum
Metode lain yang pernah dikembangkan oleh para ahli antropologi untuk melukiskan suatu kebudayaan secara holistik terintegrasi adalah dengan memusatkan perhatian terhadap “kepribadian umum” yang dominan dalam kebudayaan itu.

Rabu, 29 Januari 2014

Pameran Seni Grafis "Kekuatan Perempuan" oleh Devy Ika Nurjanah, 29 Januari 2014

Salam Budaya,
Temen-temen pelaku seni khususnya.. berhubung saya baru saja melaksanakan pameran Karya Seni Rupa, yang pada saat ini masih dibuka selama satu minggu. Pameran tunggal ini dilaksanakan untuk memenuhi persyaratan Tugas Akhir Penciptaan Karya Seni Grafis (printmaking) dengan Judul "Kekuatan Perempuan Sebagai Ide Penciptaan Seni Grafis". Dengan rendah hati saya berbagi kepada teman- teman mengenai konsep penciptaan karya- karya yang saya ciptakan.
Karya-karya yang disajikan dalam Tugas Akhir ini berupa potret wajah tokoh perempuan yang menurut penulis mempunyai kekuatan lebih dalam kehidupannya. Perempuan memiliki kekuatan untuk melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan seorang laki- laki dan mereka juga bisa mendapatkan kekuasaan dan kedudukan seperti laki- laki. Perempuan harus lebih kuat, berkualitas, lebih bijak dan penuh hikmat. Hal tersebut ditandai dengan adanya bentuk gebrakan penentangan yang dilakukan beberapa tokoh perempuan yang memberi perubahan terhadap perkembangan dunia. Kekuatan tokoh-tokoh perempuan tersebut yang telah menginspirasi penulis untuk memvisualkannya kedalam karya grafis  berupa teknik cukil kayu reduksi.
Karya-karya Tugas Akhir ini penulis menggunakan potret wajah sebagai simbol dominan sebagai sebuah metafor gagasan kekuatan perempuan. Wajah perempuan dipilih mengingat bahwa wajah  merupakan identitas seseorang, dari wajah tersebut akan nampak karakter seseorang dan khususnya kekuatan perempuan dari dalam. Potret wajah pada setiap karya penulis berusaha menunjukkan karakter tekstur semu serat kayu. Menurut penulis, kecantikan perempuan diibaratkan dengan tekstur kayu tua, sebab usia kayu semakin lama kualitasnya semakin bagus. Kekuatan perempuan dapat diwakili oleh potret wajah perempuan dengan tekstur kayu yang terkesan kaku dan kasar.
Proses pembuatan karya  Tugas Akhir ini menggunakan teknik seni grafis berupa cukil kayu reduksi yang menggunakan berbagai warna. Penulis menggunakan hardboard/ papan mdf (Medium Density Fiberboard) dan karet lino sebagai media pengganti kayu. Jenis cukilan yang penulis buat menggunakan garis- garis tegas yang lebih kepada arsir vertikal  yang mengikuti alur sejajar menyerupai tekstur kayu secara vertikal yang berdasarkan pencahayaan pada model karya. Hasil karakter tekstur kayu pada setiap wajah dan tubuh tokoh-tokoh yang dimunculkan dalam karya-karya ini telah dicapai dengan baik dan sesuai dengan yang penulis harapkan selain itu teknik tersebut menghasilkan cetakan yang lebih artistik dan efek cukilan yang dihasilkan tak terduga, membuat penulis lebih bersemangat dan menumbuhkan rasa penasaran terhadap hasil jadi karya tersebut.
Dari konsep penciptaan  tersebut telah tercipta karya-karya Seni Grafis yang pada saat ini dipamerkan di Galeri Katamsi, Gedung Seni Murni, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Berhubung katalog pameran sudah habis, maka saya akan berbagi katalog disini agar bisa diunduh secara gratis.


Senin, 09 Desember 2013

perform cobra dojang -ppak 2013- indonesian institute of the art



Ini dia perfom dojang COBRA UKM Taekwondo dari Institut Seni Indonesia, latihan ini terbuka bagi siapapun kalian yang pengen belajar. Tidak hanya diperuntukan bagi mahasiswa ISI namun mahasiswa kampus lain seperti UNY pun juga ikut gabung, selain itu teman2 alumni dan yang bukan dari Perguruan Tinggi pun juga boleh gabung. Tidak dipungut biaya asal serius dan tekun belajar. UKM taekwondo yang dipimpin langsung oleh salah satu Dosen ISI (Bpk Nurjoko) bertujuan untuk membela diri dari kemungkinan kejahatan di lingkungan kita. Banyak peserta yang ikut gabung, karena semua anggota dari Dojang COBRA ini sudah seperti keluarga kegiatan mereka tidak hanya terus menerus latihan, namun mereka juga sering mengadakan pesta kecil2an bersama.

Kamis, 05 Desember 2013

My Tumblr

http://devy-ika.tumblr.com/

Kamis, 19 September 2013

Devy Ika's Artwork , Woodcut , Printmaking

"Tiger Face",By: Devy Ika NurjanahWoodcut , By: Devy Ika Nurjanah

Woodcut Process , Seni Grafis, Proses Pembuatan Karya Seni Grafis, Cukil Kayu , Reduksi


Hai para pegrafis ..salam cetak!

Berikut ini saya akan berbagi pengetahuan tentang proses atau cara mencetak karya grafis berupa cukil kayu. Ini adalah teknik saya pribadi yang biasanya saya lakukan. Semoga bisa jadi referensi tambahan buat temen2. 

Saya adalah pegrafis yang pada tahun 2013 ini masih menjadi mahasiswa Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Fakultas Senirupa, Jurusan Seni Murni, Grafis. Karna diartikel sebelumnya sudah saya jelaskan pengertian seni grafis, sekarang cara pengerjaannya. Sebelumnya saya jelaskan alat dan bahan yang biasa saya gunakan.

 Alat:
1.      Pisau Cukil
Pisau cukil adalah alat untuk menghasilkan cukilan pada karya, biasanya alat ini digoreskan pada kayu/ hardbard. Penulis menggunakan jenis alat cukil U besar, V dan yang pipih.
2.      Roll Karet
Roll Karet berfungsi untuk memindahkan tinta ke permukaan kayu/ hardboard pada proses pencetakan
3.      Skrap/ palet besar
Skrap disini digunakan untuk mengambil tinta pada kaleng. Biasanya menggunakan scrub bangunan berukuran lebar 4cm.
4.      Kaca/ Keramik
Kaca berfungsi sebagai tempat mencampur tinta sebelum dipindahkan ke papan hardboard.
5.      Sikat
Yang digunakan adalah sikat cucian yang berfungsi untuk membersihkan sisa serabut hardboard yang masih menempel setelah dicukil.
6.      Pensil dan Spidol
Spidol berfunsi untuk membuat sketsa dan pensil untuk menulis judul serta edisi pada karya hasil cetakan.
7.      Kertas Koran dan  Kain Lap
Kertas koran berfungsi untuk membersihkan tinta pada roll,kain lap juga berfungsi untuk membersihkan tinta.




B.       Bahan:
1.      Hardboard / Mdf
Hardboard adalah partikel sebagai media klise cetakan, hardboard adalah pengganti kayu bersifat lunak namun jika terkena air mudah hancur.
2.      Tinta cetak offset warna
Tinta offset berfungsi untuk pewarnaan pada proses pencetakan. Tinta offset yang digunakan adalah basis minyak dengan merk Cemani Toka Emblem procces karena menghasilkan cetakan yang lebih mengkilat (glossy).
3.      Kertas
Kertas yang digunakan adalah hawai/ bufallo/ BC indah/ hammer.
4.      Bensin
Bensin berfungsi untuk membersihkan tinta pada hardboard dan scrub, karena tinta berbasis minyak.
 

Proses Pembuatan karya

  1.  Tahap pertama adalah pembuatan sketsa karya, yang mana penulis mengambil model dari referensi gambar potret wajah. Sketsa dibuat di kertas dan dipindahkan manual ke hardboard menggunakan skala perbesaran, jadi jika dalam sketsa hanya seukuran 20x 30cm, maka penulis memindahkan ke hardboard dengan mengukur dua kali ukuran sesungguhnya, yaitu setiap kotak yang mewakili 10cm menjadi 20cm, begitu seterusnya. 
  2. Setelah pemindahan sketsa ke dalam papan hardboard selesai lalu proses pencukilan pertama. Hardboard yang dicukil adalah yang akan menjadi warna cetakan pertama, misalnya warna putih.
  3. Setelah pencukilan selesai, proses berikutnya adalah persiapan warna kedua yang selanjutnya akan dicetak (misalkan warna kuning). Tinta offset dioleskan di kaca setelah itu diroll menggunakan alat roll karet sampai tinta tercampur rata dan permukaan terolesi tinta secara tipis, setelah bunyi berdecit maka tinta siap dipindahkan ke hardboard menggunakan roll tersebut, sampai semua permukaan merata. 
  4. Setelah proses pengerollan tinta pada hardbard selesai lalu hardboard dicap/ dicetak diatas kertas yang sudah disediakan. Disini penulis tidak pernah menggunakan kento (alat presisi karya dengan hardboard), penulis terkadang hanya menandai sudut karya dengan pensil saja. Karya di cetak dengan cara diinjak- injak pada permukaan hardboard menggunakan telapak kaki. 
  5. Setelah karya tercetak merata pada kertas, karya dilepas dan dijemur. Hardboard dibersihkan menggunakan kain yang dibasahi bensin. 
  6. Setelah itu permukaan hardboard yang sudah ada sketsanya tadi dicukil lagi untuk warna selanjutnya, lalu dicetak lagi pada permukaan karya sebelumnya dengan warna selanjutnya. Demikian seterusnya sampai terakhir warna hitam sebagai outline dan pengunci warna pada visual karya. 
  7. Finishing karya ini menggunakan figura kaca yang dalam packagingnya menggunakan past parto dan figura berwarna lebih cerah dengan tekstur semu pada kayunya. Hal ini bermaksud agar karya terkesan mendramatis dan terpaku pada satu bingkai.